Oleh: Oktareza Wahyu R | November 16, 2011

Walimatul ‘Ursy Reza & Rika [Purworejo]

Bismillahirrahmanirrahim

Assalamualaikum Warahmatullahi Wabarakatuh

Dengan memohon Rahmat dan Ridho Allah SWT kami bermaksud menyelenggarakan syukuran pernikahan kami :

OKTAREZA WAHYU RUSATMOKO

dengan

RIKA SUMARTELIANI


Yang Insya Allah diselenggarakan pada :

Hari : Sabtu, 3 Desember 2011
Pukul : 11.00-14.00 WIB
Bertempat di Desa kemanukan Rt 02/ Rw 02 Bagelen, Purworejo Jawa Tengah

Doa restu dan kehadiran Bapak/Ibu/Saudara/i merupakan suatu kehormatan bagi kami

Wassalamualaikum Warahmatullahi Wabarakatuh

~Reza & Rika~

Oleh: Oktareza Wahyu R | November 14, 2011

Walimatul ‘Ursy

Bismillahirrahmanirrahim

Assalamualaikum Warahmatullahi Wabarakatuh

Dengan memohon Rahmat dan Ridho Allah SWT kami bermaksud menyelenggarakan syukuran pernikahan kami :

RIKA SUMARTELIANI

dengan

OKTAREZA WAHYU RUSATMOKO

Yang Insya Allah diselenggarakan pada :

****** AKAD NIKAH ***********
Hari : Minggu, 20 November 2011
Pukul : 08.00 WIB s.d Selesai
Bertempat di Gedung Bima Mako Grup C Paspampres
Jl. Lawanggintung Bogor

****** RESEPSI *********
Hari : Minggu, 20 November 2011
Pukul : 10.00-14.00 WIB
Bertempat di Gedung Bima Mako Grup C Paspampres
Jl. Lawanggintung Bogor

Doa restu dan kehadiran Bapak/Ibu/Saudara/i merupakan suatu kehormatan bagi kami

Wassalamualaikum Warahmatullahi Wabarakatuh

~Rika & Reza~

Wahai Laki-Laki, Berkhianatnya Orang yang kau Cintai Mungkin karena Dosamu sendiri…!
by Ummu Abdir Rasyid on Thursday, September 29, 2011 at 11:53pm

Pembaca mulia, di saat penulis mengisi waktu senggang untuk mambaca buku diniyyah, penulis demikian terperanjat ketika membaca suatu kisah dari Tafsir Ruhul Bayan karya Al-Barwaswi yang dikutip oleh Jamal bin Abdirrahman bin Ismai’il dalam kitab beliau و لا تقربوا الفواحش. Kisah ini selayaknya menjadi ibrah (pelajaran) bagi setiap muslim, khususnya bagi kita, laki-laki.

Maka, dalam kesempatan ini, penulis nukilkan kisah tersebut dari buku terjemahnya berjudul Kenikmatan yang Membawa Bencana, terbitan Darul Haq Jakarta, hal. 29-30.

Disebutkan bahwa dulu di kota Bukhara, terdapat seorang laki-laki pembawa air. Ia biasa mengangkut air ke rumah tukang emas selama tiga puluh tahun. Tukang emas tersebut memiliki seorang istri shalihah yang sangat cantik. Pada suatu hari, lelaki pembawa air datang sebagaimana biasanya, lalu memegang tangannya dengan penuh nafsu.

Ketika suaminya kembali dari pasar, ia bertanya, “Maksiat apa yang telah Engkau lakukan pada hari ini?” Si suami menjawab, “Aku tidak berbuat maksiat apa pun!” Namun, si istri mendesak. Akhirnya si suami mengaku, ia berkata, “Seorang wanita mendatangi tokoku. Ketika itu aku punya gelang, lalu aku sematkan gelang itu di pergelangan tangannya. Akupun terpesona melihat putih lengannya, lalu aku pun mengelusnya.”

Allahu Akbar, teriak si istri. “Inilah hikmah pengkhianatan lelaki pembawa air itu hari ini!” Suaminya berkata, “Wahai istriku, aku benar-benar bertaubat, maafkanlah aku.”

Keesokan harinya, lelaki pembawa air itu pun datang dan berkata, “Wahai nyonya, maafkanlah aku, karena setan menyesatkan diriku.”

Si wanita berkata, “Pergilah!”……….

———————

Beruntunglah si tukang emas itu yang mempunyai istri yang bisa menjaga diri. Namun, yang menjadi catatan penting di sini (wahai saudara-saudaraku), apakah kita menjamin istri-istri kita akan menjaga dirinya sekiranya kita berbuat maksiat kepada-Nya. Ingatlah realita di masyarakat kita, atau di media massa sekarang yang begitu banyak memberitakan perselingkuhan seseorang karena sebab dendam dikhianati pasangannya yang selingkuh. Ingatlah ibrah kisah di atas ketika tukang emas itu merubah sikapnya kepada Allah dengan menyentuh wanita bukan mahramnya, maka Allah merubah sikapNya dengan membiarkan istri tukang emas tersebut disentuh oleh lelaki asing (bukan mahramnya)

Maka, selayaknya kita meneladani salaf kita yang demikian besar perhatiannya terhadap masalah iffah. Ini merupakan nasehat untuk diri penulis dan saudaraku-saudaraku sesama ikhwan. Barangkali di antara pembaca ada yang belum memiliki pasangan hidup. Akan tetapi, hendaknya kita melatih diri kita semenjak sekarang untuk menutup pintu-pintu pengkhianatan terhadap orang yang kita cintai. Bukanlah hal yang dibolehkan jika kita bergaul bebas dengan para wanita dengan alasan kita masih single atau belum menikah. Mungkin kita merasa tidak terikat dengan siapa pun, tetapi ingatlah bahwa Allah melihat kita. Dan ketahuilah bahwa maksiat adalah hutang yang akan kita terima pembayarannya di waktu yang tidak akan kita sangka. Camkanlah perkataan Imam Asy-Syafi’i berikut,

Jagalah kehormatan diri!

Niscaya istri dan anak gadismu akan selalu terjaga.Jauhilah segala sesuatu yang tidak pantas dilakukan seorang muslim.

(karena) Sesungguhnya zina adalah hutang.Jika kamu meminjamnya…

Maka ketahuilah, keluargamu yang bakal menjadi tebusannya

.

Barangsiapa berzina, maka keluarganya akan dizinai.

Jika bukan keluarganya,

Maka dinding rumahnya ‘kan menjadi sasaran.Jika engkau orang yang bijaksana,
Maka camkanlah hal ini.

Untaian Kata Terakhir ‘tuk Saudaraku….

Ikhwan sekalian, selayaknya kita bersyukur kepada Allah yang telah memberikan bimbingan dan hidayahNya kepada kita semua, hingga kita dapat terhindar dari perbuatan maksiat dan dosa. Maka, jika kita merasa peringatan Allah telah sampai pada kita, apakah kita akan menyia-nyiakan nikmat hidayah ini?

http://alashree.wordpress.com/2009/03/09/323/ Posted by Ummu Zahratun Nisa Lathifah

Selasa, 26 Januari 2010

Oleh: Oktareza Wahyu R | September 23, 2011

Ayah.., Dengarkanlah!

Ayah.., Dengarkanlah!

Di antara hal yang tidak diragukan lagi karena memang terjadi adalah bahwa setiap ayah mendambakan anak sebagai buah hati bisa sukses dan berhasil dalam pendidikan dan sekolahnya serta kehidupannya. Karenanya, ayah senantiasa berdo’a kepada Allah agar memberikan kemudahan dan keteguhan bagi anak tercinta. Ayah menjanjikan hadiah dan mengabulkan keinginan si buah hati jika lulus dalam ujian dan memberikan ancaman serta marah jika sampai gagal dalam ujian. Perasaan seperti ini memang merupakan fitrah manusia dan memang terjadi di antara kita.

Akan tetapi wahai Ayah yang penyayang, apakah perhatianmu kepada si buah hati berupa perhatian penuh terhadap sekolah, pendidikan, masa depan dan urusan dunianya itu -karena memang engkau sadar itu adalah kewajibanmu- sama seperti perhatianmu terhadap akhirat mereka? Apakah engkau benar-benar memikirkan dan mengkhawatirkan nasib mereka setelah mati seperti halnya perhatianmu akan kenyamanan dan kebahagiaan hidup mereka sewaktu di dunia? Inilah tanggung jawabmu wahai Ayah. Engkau curahkan semuanya untuk dunia yang fana sementara engkau abaikan akhirat yang kekal selamanya. Engkau sibuk memikirkan kehidupan mereka tapi engkau lupakan keadaan setelah matinya. Engkau bangun bagi mereka rumah dari tanah, batu dan bata di dunia tapi engkau haramkan mereka untuk mendapatkan rumah di akhirat yang indah bertatahkan intan permata.

Itulah keinginanmu! Itulah angan-anganmu! Semuanya tidak lebih dari agar anak-anakmu bisa jadi dokter, insinyur, pilot ataupun tentara. Ya Allah! Semuanya itu hanya cita-cita dunia…..! Engkau berusaha, bekerja membanting tulang dan bersungguh-sungguh hanya untuk dunianya… Mana usahamu untuk akhiratnya wahai Ayah……? Fenomena ini bukanlah sesuatu yang jarang terjadi, bahkan mayoritas manusia demikian adanya. Mereka begitu serius berusaha mempersiapkan segala sesuatunya untuk pendidikan fisik anak-anaknya. Tetapi mereka menelantarkan pendidikan hatinya yang padahal dengannyalah anak-anaknya bisa hidup dan bahagia atau sebaliknya binasa dan sengsara. Inilah kenyataan!

Ayah! Mungkin engkau mengira bahwa ini hanyalah perkataan yang tiada beralasan. Tapi jika engkau ingin bukti maka simaklah wahai Ayah yang penyayang!

Bayangkan atau anggap anakmu terlambat mengikuti ujian di sekolahnya. Apakah yang engkau rasakan wahai Ayah? Bukankah engkau akan berlomba dengan waktu mengantarkan anakmu agar bisa mengikuti ujian meskipun terlambat? Bahkan sebelumnya, bukankah engkau akan rela untuk tidur setengah mata agar bisa membangunkan si buah hati supaya tidak terlambat? Bukankah engkau akan melakukan segalanya agar anak tercinta yang menjadi kebanggaanmu bisa ikut ujian tepat waktu? Saya yakin jawabannya adalah Ya. Bukankah engkau melakukan semua itu wahai Ayah? Akuilah!!

Sekarang, apakah perasaanmu itu sama atau akan muncul juga ketika anakmu terlambat shalat Shubuh? Apakah engkau akan berusaha agar anakmu shalat Shubuh tepat waktu? Saya hanya berprasangka baik bahwa engkau memang shalat Shubuh tepat waktu. Karena jika tidak, bagaimana mungkin engkau akan membangunkan anak-anakmu sementara engkau sendiri terlambat untuk itu?

Kemudian, bukankah engkau setiap hari senantiasa bertanya kepada anakmu tentang sekolahnya? Apa yang dipelajari, apa yang dilakukan, jawaban apa yang diberikan ketika ujian dan berharap jawaban itu benar? Tetapi, apakah setiap hari engkau bertanya juga tentang urusan agamanya? Apakah engkau bertanya sudahkah dia shalat? Dengan siapa dia duduk dan bergaul? Tidakkah engkau bertanya apa yang dia lakukan ketika tidak di rumah, ta’at atau maksiat?

Ayah, bukankah dadamu terasa sesak ketika tahu bahwa si buah hati salah dalam menjawab ujian? Bukankah engkau merasa terhimpit ketika tahu bahwa nilainya jauh di bawah sempurna bahkan rata-rata? Bukankah engkau merasa terpukul ketika tahu bahwa dia gagal dalam ujiannya? Akan tetapi, apakah dadamu juga terasa sesak, dadamu juga terasa terhimpit ketika tahu bahwa anakmu sangat minim dalam menunaikan kewajiban-kewajiban agamanya terlebih sunah-sunahnya? Tidakkah ini cukup menjadi bukti bahwa engkau lebih dan hanya memperhatikan dunianya dan mengabaikan akhiratnya?

Ayah, engkau mengira apabila anakmu tidak lulus ujian berarti kandas sudah cita-cita dan harapan yang ada. Engkau menyangka bahwa dalam hal itu tidak ada kesempata kedua terlebih ketiga. Ketahuilah wahai Ayah…, bahwa kegagalan yang hakiki…, kegagalan yang memang tidak ada lagi kesempatan kedua atau ketiga untuk memperbaiki, adalah masuknya mereka ke dalam neraka dengan api yang panas menyala-nyala. Tahukah engkau bahwa kegagalan yang hakiki adalah penyesalan dan kerugian yang disertai adzab yang pedih lagi menghinakan? Setelah ini akankah engkau masih beralasan bahwa kita sekarang hidup di dunia sehinga harus fokus memikirkannya? Kalau begitu kapankah engkau akan fokus memikirkan akhirat padahal di akhirat nanti tidak ada lagi amalan yang ada hanyalah pembalasan?

Sungguh wahai Ayah jikalau demikian adanya -kita berlindung kepada Allah darinya- maka tidaklah bermanfaat kesuksesan yang diraih di dunia. Tidaklah bermanfaat ijazah, harta, istana yang megah, kedudukan dan kekuasaan kalau ternyata catatan amal perbuatan diberikan dari arah kirinya. Kemudian mereka akan berteriak:

Wahai alangkah baiknya kiranya tidak diberikan kepadaku kitabku (ini). Dan aku tidak mengetahui apa hisab terhadap diriku. Wahai kiranya kematian itulah yang menyelesaikan segala sesuatu. Hartaku sekali-sekali tidak memberikan manfaat kepadaku. Telah hilang kekuasaannku dariku. (Al-Haqqah: 25-29)

Ah…sungguh tidak bermanfaat kekuasaanku, ilmu duniaku, serta ijazahku. Semuanya telah hilang, semuanya lenyap…yang ada hanyalah kerugian dan kegagalan.

Tahukah engkau apakah kerugian itu? Tahukah engkau apakah kegagalan itu? Ya, di dunia kerugian dan kegagalan itu adalah jika anakmu tidak bisa menjadi dokter, atau insinyur atau pilot dan guru. Akan tetapi di akherat, yang ada hanyalah kebahagiaan atau kesengsaraan. Yang satu berarti surga yang lainnya berarti neraka. Akankah engkau rela membiarkan mereka mengalami kerugian dan kegagalan dalam arti kesengsaraan di dalam neraka?

Saya tidak katakan tinggalkan anak-anakmu! Saya tidak katakan biarkan mereka jangan diajari masalah dunia! Tidak, demi Allah, saya tidak katakan demikian. Saya hanya katakan bahwa akherat lebih utama dan ditekankan untuk diperhatikan, lebih serius untuk diusahakan dan lebih bersunguh-sungguh untuk beramal meraih kebahagiaannya.

Wahai Ayah…! Siapakah di antaramu yang begitu bersemangat bersungguh-sungguh mendatangkan seorang pendidik untuk mengajarkan kepada anaknya Al-Qur’an dan menerangkan As-Sunnah? Sungguh sedikit sekali yang telah berbuat demikian. Alangkah baik kiranya kalau mereka tidak memfasilitasi anak-anaknya dengan sarana kerusakan. Akan tetapi kita lihat justru mereka dengan jeleknya pemikiran dan kurangnya perhitungan malah mendatangkan kejelekan bagi anak-anaknya dengan memfasilitasi dengan kendaraan-kendaraan, sopir pribadi, pembantu (pelayan) serta memenuhi rumahnya dengan barang-barang dan hal-hal yang diharamkan yang melalaikan dari dzikrullah dan ta’at kepada-Nya.

Siapakah di antara kalian wahai Ayah yang memberikan hadiah pada anaknya apabila hafal satu juz dari Al-Qur’anul Karim atau beberapa hadits dari hadits Nabi saw ? Sungguh sangat sedikit sekali yang demikian ini. Kita mohon kepada Allah agar memberkahi yang sedikit ini. Kita lihat sebagian manusia, mereka menjanjikan pada anaknya apabila lulus ujian akan diajak pesiar menyusuri pantai yang indah atau wisata ke mancanegara, apakah Eropa atau Amerika, serta mereka menjanjikan dibelikan mobil agar bebas mengukur jalan. Namun adakah di antara meraka yang menjanjikannya untuk diajak umrah atau haji dan mengunjungi masjid Nabi saw?

Setelah semua itu, tahukah engkau wahai Ayah apakah buah dari hasil pendidikan seperti itu? Tahukah engkau apakah hasil dari pendidikan yang mengabaikan masalah akhirat tersebut? Hasilnya adalah Al-Qur’an berganti menjadi majalah, siwak berganti menjadi rokok dan lebih parah lagi mereka akan hidup tidak ubahnya binatang ternak. Tahukah engkau apa di antara yang membedakan kita dari binatang ternak? Kita diberikan fasilitas untuk mengerti bahwa dunia hanyalah sementara. Kita mengetahui bahwa ada kehidupan yang kekal selamanya. Maka selayaknyalah kita untuk berusaha menggapai kebahagiaan di sana. Tetapi apabila tidak demikian maka tidaklah beda dengan binatang bahkan lebih sesat karena kita diberi fasilitas sedangkan mereka tidak. Mereka seperti binatang ternak bahkan lebih sesat lagi. Meraka itulah orang-orang yang lalai. (Al-A’raf: 179)

Di samping memperhatikan pekembangan fisik anak, kita juga harus memperhatikan pendidikan akal dan hati mereka. Kita harus memikirkan nasib mereka setelah matinya.

Langkah pertama untuk itu adalah kita perbaiki terlebih dahulu diri kita, karena dengan baiknya diri kita maka mereka akan ada di atas keteguhan dan kekokohan serta ada di dalam penjagaan Allah swt. Allah berfirman:Ayah mereka berdua adalah orang yang shalih (Al-Kahfi: 82)

Kedua, kita jadikan bimbingan dan pengajaran Islam sebagai tujuan. Tidak ada halangan untuk belajar dan mempelajari ilmu-ilmu dunia akan tetapi tidak sebesar perhatiannya terhadap akhirat. Allah berfirman:Dan carilah apa yang telah dianugrahkan Allah kepadamu (kebahagiaan) negeri akhirat, dan janganlah kamu lupakan nasib (bagian)mu dari (keni’matan) dunia. (Al-Qashash: 77)

Wahai Ayah! Maka takutlah engkau kepada Allah pada apa yang menjadi tanggunganmu karena engkau akan diminta pertanggujawabannya di hadapan Allah. Takutlah engkau kepada Allah bahwasanya Allah telah memberikan anak sebagai amanat kepadamu tapi engkau justru membukakan pintu-pintu kejelekan bagi mereka. Allah mengamanatimu tapi engkau malah menyibukkan mereka dengan film-film, sinetron-sinetron, perangkat-perangkat kekejian, majalah-majalah porno dan semisal dengan itu. Jika demikian adanya berarti engkau telah mengkhianati amanat yang dipikulkan kepadamu dan engkau telah menipu mereka yang menjadi tanggunganmu. Nabi saw bersabda:Tidaklah seseorang diberi amanat oleh Allah untuk memimpin rakyatnya (tanggungannya) kemudian dia mati dalam keadaan menipu mereka, melainkan Allah haramkan baginya surga. (Bukhari Muslim)

Ayah….! Jika engkau memang sayang pada buah hatimu, tidak ingin menipu mereka dan juga tidak ingin mengkhianati amanat yang dipikulkan di pundakmu, maka kemarilah! Kemarilah untuk sama-sama menyimak wasiat Luqman kepada anaknya. Wasiat seorang ayah yang yang sangat menyayangi anaknya dan menebusnya dengan sangat mahal dan berharga. Tahukan engkau apakah dia mewasiatinya dengan dunia? Apakah dia mewasiatinya dengan intan permata dan segala perhiasan kemewahan lainnya? Tidak, bahkan dia mewasiati anaknya dengan apa yang akan menjadikannya ada dalam kehidupan yang baik. Kehidupan yang akan menyelamatkannya dari adzab Allah yang pedih. Sungguh Allah telah mengabadikannya dalam Al-Qur’an. Pernahkah engkau mendapatinya? Tahukah engkau apakah wasiatnya itu?

Adalah Luqman Al-Hakim dengan kasih sayang yang begitu besar kepada anaknya, dia berwasiat agar jangan berbuat syirik, yakni menyekutukan Allah swt. Dan (ingatlah) ketika Luqman berkata kepada anaknya, waktu dia memberikan nasihat kepadanya: ‘Wahai anakku, janganlah kamu mempersekutukan Allah, sesungguhnya mempersekutukan (Allah) adalah sebesar-besar kezhaliman. (Luqman: 13)

Ya… adakah kezhaliman yang lebih besar dari syirik? Itulah apa yang dikhawatirkan Luqman pada anaknya sehingga mewasiati agar jangan sampai terjatuh ke dalamnya. Adakah engkau pernah menyampaikan ini pada anakmu?

Kemudian, beliau dengan segenap kasih sayangnya menunjukkan pada anaknya apa yang akan menyelamatkan anaknya dari adzab Allah yaitu dengan menghadap kepada-Nya melalui shalat, memerintahkan yang ma’ruf serta mencegah dari yang munkar. Adakah engkau demikian wahai ayah? Saya berharap engkau sudah memenuhi semuanya sehingga hanya tinggal menyampaikannya kepada anakmu. Karena jika tenyata engkaupun belum demikian…maka ini adalah mushibah dari sebenar-benar mushibah, dan kita berlindung darinya.

Setelah itu, Luqman mewasiati anaknya agar berhias dengan akhlaq yang mulia yang akan mengangkat jiwanya dan akan tinggi derajatnya. Janganlah sombong dan menghina sesama. Sederhanalah dalam berjalan dan lunakkanlah suara dalam pembicaraan. Sesungguhnya seburuk-buruk suara ialah suara keledai. (Luqman: 19)

Inilah wahai Ayah, sejumlah wasiat dari ayah yang begitu sangat menyayangi dan mendambakan kebahagian bagi si buah hati. Pernahkah engkau menyampaikannya pada anakmu, sebagiannya atau bahkan seluruhnya..?!

Ada fenomena yang sangat kita sesali dan kita keluhkan semuanya kepada Allah, yakni sebagian ayah berusaha mematahkan semangat anaknya dan menghalangi kesungguhannya ketika melihat bahwa Allah telah memberikan hidayah kepadanya untuk mendalami dan mengamalkan ilmu agama. Bahkan di antara mereka ada yang sampai menghasut dan menakut-nakuti serta menebar was-was. Mereka mengatakan bahwa belajar agama hanya akan mengikat kebebasan jiwa. Mereka juga mencela dan juga memperolok-oloknya, sehingga tidak tahu lagi apakah yang dicela itu adalah orangnya atau agama yang dibawanya. Ketika didapati anaknya memanjangkan janggut maka dikatakan seperti kambing. Ketika anaknya berusaha mengenakan pakaian di atas mata kaki maka dikatakan takut cacing dan lain sebagainya. Maka apakah ini perlakuannmu terhadap apa yang menjadi amanatmu? Apakah ini yang engkau nasihatkan kepada mereka?

Takutlah engkau kepada Allah! Takutlah bahwasanya Allah sentiasa mengawasi bagaimana engkau mendidik mereka. Ajarilah mereka apa yang bermanfaat baginya dari urusan agama dan dunianya. Dan tiadalah kehidupan dunia ini selain dari main-main dan sendau gurau belaka. Dan sungguh kampung akhirat itu lebih baik bagi orang-orang yang bertaqwa. Maka tidaklah kamu memahaminya!(Al-An’am:32)

Ayah….! Engkau telah menyiapkan anakmu untuk menghadapi ujian dunia. Maka takutlah kepada Allah dan ketahuilah olehmu serta beritahukanlah kepada anak-anakmu bahwa barang dagangan Allah (surga) jauh lebih berharga dan lebih mahal dari perhiasan dunia. Dan ajarkanlah serta beritahukanlah mereka bahwa kesuksesan yang hakiki ada pada membatasi diri pada apa yang Allah ridlai. Beritahukanlah kepada mereka dan ketahui olehmu juga bahwa kebahagiaan yang hakiki ada pada taqwa dan ta’at kepada Allah.

Serta ketahuilah olehmu bahwa kaki seorang hamba tidak akan bergeser sejengkalpun dari posisinya pada hari kiamat dan akan diadukan kezhalimannya oleh orang yang pernah dizhaliminya. Anak akan senang bisa mendapatkan ayahnya untuk mengadukan kezhaliman yang pernah dilakukannya, demikian juga istrinya. Pada hari kiamat nanti anak-anak akan membantah dan menyalahkan ayah-ayah mereka dengan berkata: Wahai Rabb kami, ambil lah hak kami pada ayah kami yang zhalim ini. Dia telah menyebabkan kami tidak melakukan apa yang Engkau ridlai. Dialah yang telah mendidik kami tidak ubahnya binatang ternak. Dialah yang mendatangkan berbagai hal yang membinasakan dan tidaklah ada satu kerusakan melainkan didatangkannya ke hadapan kami. Maka apakah yang nanti akan engkau katakan untuk menjawab semuanya itu wahai Ayah yang penyayang, yang begitu sayangnya sehingga menjerumuskan anaknya pada kebinasaan? Bahkan pada akhirnya nanti sama-sama ada dalam kebinasaan.

Yaitu pada hari dimana tidak bermanfaat lagi harta dan anak-anak. Kecuali orang-orang yang menghadap Allah dengan hati yang bersih. (Asy-Syu’araa’: 88-89)

Maka di manakah hartamu? Di manakah anak yang engkau banggakan itu? Mereka justru menyalahkanmu dan menyeretmu untuk ikut merasakan panas neraka karena engkaulah yang punya andil besar untuk itu.

Kita berlindung kepada Allah dari semua itu dan memohon agar Allah menunjukkan kita kepada kebaikan dan memberikan kekuatan dan kemudahan untuk menempuhnya serta dimatikan di atasnya, serta kita memohon kepada-Nya agar menyelamatkan kita, keluarga serta anak keturunan kita dari adzab-Nya yang pedih. Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.

Terakhir wahai Ayah! Bertaqwalah engkau kepada Allah. Takutlah Engkau kepada-Nya pada apa yang engkau lakukan untuk anakmu. Perbaikilah pendidikan mereka! Jagalah mereka dari segala kerusakan dan kealpaan dalam segala kebaikan. Lakukanlah sejak sekarang selama mereka masih ada di hadapan kalian. Selama kalian masih bisa bersungguh-sungguh mengusahakan. Lakukanlah segera sebelum kalian hanya bisa melakukan celaan dan penyesalan yaitu pada hari dimana tidak akan bermanfaat lagi celaan dan penyesalan. Dan Allah lah tempat kita meminta perlidungan dan pertolongan.

Sesungguhnya hartamu dan anak-anakmu hanyalah cobaan (bagimu); di sisi Allah lah pahala yang besar. (At-Thagaabun: 15)

Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya adalah malaikat yang kasar, yang keras, yang tidak pernah mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan. (At-Tahrim: 6)

Oleh: Oktareza Wahyu R | Mei 30, 2011

Sifat Malu (Al-Hayaa’)

Dengan mengimaninya, kita mengetahui bahwa sifat malu adalah sifat yang terpuji dan dicintai Allah Subhanahu wa Ta’ala. Oleh karena itu, hendaknya kita juga menjaga sifat itu pada diri kita, dan senantiasa kita tumbuhkan pada diri kita serta anak keturunan kita juga anak didik kita. Terlebih di masa ini, di mana sifat malu tersebut hampir punah pada diri kawula muda baik perempuannya terlebih laki-lakinya.

Di antara Al-Asma’ul Husna adalah Al-Hayiy. Artinya, yang memiliki sifat Al-Hayaa’, yang berarti malu. Sehingga makna Al-Hayiy adalah Yang Maha pemalu. Dalam hadits dari Salman Al-Farisi radhiyallahu ‘anhu, dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, bahwa beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

إِنَّ اللهَ حَيِيٌّ كَرِيمٌ يَسْتَحِي إِذَا رَفَعَ الرَّجُلُ إِلَيْهِ يَدَيْهِ أَنْ يَرُدَّهُمَا صِفْرًا خَائِبَتَيْنِ
“Sesungguhnya Allah Maha pemalu dan pemurah. Dia malu bila seorang lelaki mengangkat kedua tangannya kepada-Nya lalu Dia mengembalikannya dalam keadaan kosong dan hampa.”
(Shahih, HR. Abu Dawud no. 1488 dan At-Tirmidzi no. 3556 dan beliau mengatakan hasan gharib. Dishahihkan oleh Asy-Syaikh Al-Albani dalam Shahih Sunan Abu Dawud dan At-Tirmidzi)

Dari Ya’la radhiyallahu ‘anhu, bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam melihat seseorang mandi di tempat terbuka tanpa memakai sarung. Maka Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam naik mimbar dan mengucapkan pujian serta sanjungan kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, kemudian berkata:

إِنَّ اللهَ عَزَّ وَجَلَّ حَيِيٌّ سِتِّيرٌ يُحِبُّ الْحَيَاءَ وَالسَّتْرَ، فَإِذَا اغْتَسَلَ أَحَدُكُمْ فَلْيَسْتَتِرْ
“Sesungguhnya Allah Subhanahu wa Ta’ala Maha pemalu dan Maha menutupi. Dia mencintai sifat malu dan sifat menutupi, maka bila seseorang dari kalian mandi hendaklah dia menutup diri.”
(Shahih, HR. Abu Dawud no. 4012 dishahihkan oleh Asy-Syaikh Al-Albani dalam Shahih Sunan Abu Dawud. Lihat juga Al-Irwa’ no. 2335)

Ibnu Qayyim rahimahullahu mengatakan:

Dan Dialah Yang Maha pemalu, maka Dia tidak akan membeberkan aib hamba-Nya
Saat dia terang-terangan melakukan kemaksiatan,
Namun justru Dia lontarkan tirai menutupinya
Memang Dia Maha menutupi dan pemberi ampunan

Asy-Syaikh Muhammad Khalil Al-Harras menjelaskan: “Dalam hadits Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam terdapat penyebutan sifat malu bagi Allah Subhanahu wa Ta’ala, seperti dalam hadits (Salman Al-Farisi radhiyallahu ‘anhu di atas). Juga seperti dalam ucapan Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam tentang tiga orang yang mendapati majelis Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam:

أَمَّا أَحَدُهُمْ فَآوَى إِلَى اللهِ فَآوَاهُ اللهُ، وَأَمَّا الْآخَرُ فَاسْتَحْيَا فَاسْتَحْيَا اللهُ مِنْهُ، وَأَمَّا الْآخَرُ فَأَعْرَضَ فَأَعْرَضَ اللهُ عَنْهُ

“Salah seorang dari mereka berlindung kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, maka Allah Subhanahu wa Ta’ala pun melindunginya. Yang lain, dia malu sehingga Allah Subhanahu wa Ta’ala pun malu darinya. Adapun yang lainnya lagi, dia berpaling sehingga Allah Subhanahu wa Ta’ala berpaling darinya.”1

Sifat malu Allah Subhanahu wa Ta’ala adalah sifat yang pantas bagi Allah Subhanahu wa Ta’ala, tidak seperti sifat makhluk. Di mana sifat malu pada makhluk mengandung perubahan dan kelemahan yang memengaruhinya yaitu ketika dia merasa khawatir dari sesuatu yang aib atau tercela. Bahkan sifat malu Allah Subhanahu wa Ta’ala artinya meninggalkan sesuatu yang tidak sesuai dengan keluasan rahmat-Nya dan kesempurnaan kedermawanan-Nya, kemurahan-Nya serta keagungan ampunan dan kelembutan-Nya.

Sementara seorang hamba terang-terangan bermaksiat kepada-Nya padahal dia sangat butuh kepada-Nya dan paling lemah di hadapan-Nya. Bahkan dia memakai nikmat-nikmat-Nya untuk bermaksiat kepada-Nya. Akan tetapi Allah Subhanahu wa Ta’ala dengan kesempurnaan sifat ketidakbutuhan-Nya kepada makhluk dan kesempurnaan sifat kemampuan-Nya, Dia malu untuk menyingkap tabir aib hamba-Nya. Bahkan Allah Subhanahu wa Ta’ala menutupinya dengan sebab-sebab yang Allah Subhanahu wa Ta’ala persiapkan untuk menutupinya. Lalu setelah itu Allah Subhanahu wa Ta’ala memaafkan dan mengampuninya seperti dalam hadits Ibnu Umar radhiyallahu ‘anhuma:

إِنَّ اللهَ يُدْنِي الْمُؤْمِنَ فَيَضَعُ عَلَيْهِ كَنَفَهُ وَيَسْتُرُهُ فَيَقُولُ: أَتَعْرِفُ ذَنْبَ كَذَا؟ أَتَعْرِفُ ذَنْبَ كَذَا؟ فَيَقُولُ: نَعَمْ أَيْ رَبِّ. حَتَّى إِذَا قَرَّرَهُ بِذُنُوبِهِ وَرَأَى فِي نَفْسِهِ أَنَّهُ هَلَكَ قَالَ: سَتَرْتُهَا عَلَيْكَ فِي الدُّنْيَا وَأَنَا أَغْفِرُهَا لَكَ الْيَوْمَ

Sesungguhnya Allah Subhanahu wa Ta’ala mendekatkan kepada-Nya seorang mukmin lalu Allah Subhanahu wa Ta’ala menutupkan pada dirinya penutupnya. Kemudian Allah Subhanahu wa Ta’ala bertanya kepadanya: “Apakah kamu tahu dosa ini? Apakah kamu tahu dosa ini?” Maka hamba itu pun mengatakan: “Ya, wahai Rabbku.” Sehingga ketika Allah Subhanahu wa Ta’ala meminta dia mengakui dosanya lalu dia pun yakin bakal hancur, Allah Subhanahu wa Ta’ala mengatakan kepadanya: “Aku telah tutup dosa itu padamu di dunia. Dan pada hari ini aku ampuni kamu.”2

Demikian pula Dia malu untuk menyiksa seorang yang berada dalam agama Islam sampai beruban, dan malu dari hamba-Nya yang berdoa menengadahkan dua tangannya, lalu mengembalikannya dalam keadaan hampa. Karena Allah Maha pemalu dan menutupi, maka Dia menyukai pada diri hamba-Nya sifat malu dan tidak mengumbar aib. Maka barangsiapa menutupi aib seorang muslim, Allah Subhanahu wa Ta’ala akan menutupi aibnya di dunia dan akhirat. Allah Subhanahu wa Ta’ala juga membenci orang yang terang-terangan dengan kefasikan (maksiat)nya serta terang-terangan dengan kekejiannya.

Di antara orang yang paling Allah Subhanahu wa Ta’ala benci adalah orang yang bermalam melakukan maksiat dan Allah Subhanahu wa Ta’ala menutupinya, lalu dia sendiri yang membuka tutup aib itu di pagi harinya. Allah Subhanahu wa Ta’ala juga mengancam orang-orang yang suka tersebarnya kekejian di tengah-tengah kaum muslimin, bahwa mereka akan mendapatkan siksa yang pedih di dunia dan di akhirat. Dalam hadits disebutkan:

كُلُّ أُمَّتِي مُعَافًى إِلَّا الْمُجَاهِرِينَ

“Semua umatku diberi maaf kecuali orang-orang yang terang-terangan (dengan dosanya).”

Buah mengimani nama Allah Al-Hayiy
Dengan mengimani nama Allah Al-Hayiy maka kita mengetahui keluasan ampunan Allah Subhanahu wa Ta’ala dan kemurahan-Nya. Sementara hamba-hamba-Nya justru terus berbuat maksiat tanpa rasa malu kepada Dzat Yang Maha pemalu, tentu yang demikian sangat dibenci Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Dengan mengimaninya, kita mengetahui bahwa sifat malu adalah sifat yang terpuji dan dicintai Allah Subhanahu wa Ta’ala. Oleh karena itu, hendaknya kita juga menjaga sifat itu pada diri kita, dan senantiasa kita tumbuhkan pada diri kita serta anak keturunan kita juga anak didik kita. Terlebih di masa ini, di mana sifat malu tersebut hampir punah pada diri kawula muda baik perempuannya terlebih laki-lakinya. Suatu hal yang teramat dibenci Allah Yang Maha pemalu. Sehingga dengan hilangnya rasa malu, tak ada beban lagi bagi mereka untuk bergaul bebas dengan lawan jenis, bercanda ria, berjalan bersama, dan lebih dari itu. Malu rasanya mengungkapkannya…

Sungguh hal yang sangat memprihatinkan kita bersama. Inikah sebagian hasil pendidikan umum? Cobalah para guru dan para pendidik mengkaji ulang metode dan lingkungan pendidikan mereka, demi meraih ridha Allah Yang Maha pemalu serta demi masa depan moral dan agama anak-anak muslimin.

——————————————————————-

* 1 Shahih, HR. Al-Bukhari no. 66 dan Muslim. Hadits di atas adalah lafadz Al-Bukhari. Asy-Syaikh Al-Harras menyebutkan dengan lafadz yang sedikit berbeda.
* 2 Shahih, HR. Al-Bukhari no. 183 dengan lafadz Al-Bukhari, Asy-Syaikh Al-Harras menyebutkan dengan lafadz yang sedikit berbeda.

Ditulis Oleh Al-Ustadz Qomar ZA, Lc

Kamis, 11 Pebruari 2010
sumber:
http://ibnulqoyyim.com/content/view/223/1/

Oleh: Oktareza Wahyu R | Mei 30, 2011

Renungan Kematian

Renungan Kematian

siapa diantara kita yang tidak akan ditimpa oleh kematian..

ia tidak memiliki teman
jika ia datang, maka berakhirlah segala sesuatu..

ia tidak memiliki tempat
seluruh alam ini adalah tempatnya
kita tidak akan bisa berlari ataupun bersembunyi darinya
walaupun kita berada di dalam benteng yang sangat kokoh

ia tidak memiliki waktu
ia terus bekerja sepanjang hari, sepanjang masa

ia tidak menunggu seorang pun
akan tetapi kita semua yang menunggunya

ia adalah penghancur harta
penghancur keinginan
penghancur impian
ia adalah akhir fase pertama manusia

ia adalah kematian..

كُلُّ نَفْسٍ ذَائِقَةُ الْمَوْتِ

Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati..

hiduplah sesuka hatimu!
tumpahkan dan hamburkan kesenangan demi kesenangan untuk memuaskan nafsumu!
katakan semaumu tentang islam, orang-orang sholih, ketaatan dan kebaikan!
bergembiralah dan tertawalah sepuas-puasmu kepada dunia!
kelak pada akhirnya, engkau juga akan meregang ditengah sakarotul maut!
dan entah kapan, itu pasti akan menimpamu
lalu engkau mati..

saat itu,
malaikat maut tepat berada diatas kepalamu
hatimu bergetar
nyawamu meregang
mulutmu terkunci
anggota badanmu melemas
lehermu berkeringat
matamu terbelalak
pintu taubat sudah tertutup
orang-orang di sekitarmu menangis
sedangkan kamu sendiri mengerang melawan sakit
lalu nyawamu diangkat ke langit

sebelum semua itu terjadi
sebelum semuanya terlambat
selamatkanlah dirimu!

كُلُّ نَفْسٍ ذَائِقَةُ الْمَوْتِ ثُمَّ إِلَيْنَا تُرْجَعُونَ

“Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati. Kemudian hanyalah kepada Kami kamu dikembalikan.” (QS. Al-Ankabut:57)

Oleh: Oktareza Wahyu R | September 20, 2010

SAUDARAKU YANG SEDANG DALAM MASA PENANTIANYA

ijinkanlah saya berbagi dalam goresan tulisan ini… jika menurut teman-teman, baik…maka ambillah… dan jika menurut teman-teman, buruk…maka tinggalkanlah….

saudaraku….

wanita muslimah…laksana bunga….yang menawan… wanita muslimah yang sholehah….bagaikan sebuah perhiasan yang tiada ternilai harganya…. Begitu indah… begitu berkilau… begitu menentramkan…

teramat banyak yang ingin meraih bunga tersebut… namun tentunya….tak sembarang orang berhak meraihnya….menghirup sarinya….

hanya yang dia yang benar-benar terpilihlah…yang dapat memetiknya… yang dapat meraih pesonanya… dengan harga mahal yang teramat suci… sebuah ikatan amat indah…bernama pernikahan… karena itu…sebelum saatmu tiba…. janganlah engkau biarkan seorang muslimah layu sebelum masanya… jangan kau menjadikan serigala liar membuatnya bahan permainan dalam keisenganmu… Jangan kau biarkan ia permainkan hatimu yang rapuh….atas nama taaruf…atas nama cinta…

Ya…atas nama cinta… jangan kau biarkan ia permainkan hatimu yang rapuh….atas nama taaruf…atas nama cinta

Kau tau saudaraku…??

Jika seseorang jatuh cinta….maka cinta akan membungkus seluruh aliran darahnya…membekuknya dalam jari-jarinya…dan menutup semua mata…hati dan pikirannya…. Membuat seseorang lupa akan prinsipnya…. Membuat seseorang lupa akan besarnya fitnah ikhwan-akhwat… Membuat seseorang lupa akan apa yang benar dan apa yang seharusnya ia hindarkan… Membuat seseorang itu lupa akan apa yang telah ia pelajari sebelumnya tentang batasan-batasan pergaulan ikhwan akhwat… Membuat seseorang menyerahkan apapun…supaya orang yang ia cintai…”bahagia” atau ridho terhadap apa yang ia lakukan…

Membuat orang tersebut lupa…bahwa….cinta mereka belum tentu akan bersatu dalam pernikahan….

Ya saudaraku….akhi fillah…

Jangan sampai cinta menjerumuskanmu dalam lubang yang telah engkau tutup rapat sebelumnya…

Karena itu…jika engkau mulai menyadari adanya benih-benih cinta mulai tertanam lembut dalam hatimu yang rapuh…segeralah…buat sebuah benteng yang tebal…yang kokoh… Tanam rumput beracun disekelilingnya… Pasang semak berduri di muara-muaranya

Cinta sejati hanyalah pada Rabbul Izzati. Cinta yang takkan bertepuk sebelah tangan. Namun Allah tidak egois mendominasi cinta hamba-Nya. Dia berikan kita cinta kepada anak, istri, suami, orang tua, kaum muslimin…

Cinta begitu dasyat pengaruhnya…jika engkau tau…. Karena itu…jika engkau mulai menyadari adanya benih-benih cinta mulai tertanam lembut dalam hatimu yang rapuh…segeralah…buat sebuah benteng yang tebal…yang kokoh… Tanam rumput beracun disekelilingnya… Pasang semak berduri di muara-muaranya….

Berlarilah menjauhinya…menjauhi orang yang kau cintai…. Buat jarak yang demikian lebar padanya….

jangan kau berikan ia kesempatan untuk menjajaki hatimu…

Biarlah air mata mengalir untuk saat ini… Karena kelak yang akan kalian temui adalah kebahagiaan… biarlah sakit ini untuk sementara waktu… biarlah luka ini mengering dengan berjalannya kehidupan…

Karena…cinta tidak lain akan membuat kalian sendiri yang menderita… Kalian sendiri…

Saudaraku…. tentunya sudah mengerti dan paham… bagaimana rasanya jika sedang jatuh cinta… jika dia jauh..kita merasa sakit karena rindu… jika ia dekat…kita merasa sakit…karena takut kehilangan….

padahal…ia belum halal untukmu…dan mungkin tidak akan pernah menjadi yang halal…

karena itu…jauhilah ia… jangan kau biarkan dia menanamkan benih-benih cinta di hatimu….dan kemudian mengusik hatimu… jangan kau biarkan dia mempermainkanmu dalam kisah yang bernama cinta…

maka…bayangkanlah keadaan ini…tentang istrimu kelak…

saudaraku….. sukakah engkau..?? apabila saat ini ternyata istrimu (kelak) sedang memikirkan pria yang itu bukan engkau..???

sukakah engkau..?? bila ternyata istrimu (kelak) saat ini tengah mengobrol akrab…tertawa riang…becanda… saling menatap… saling menggoda… saling mencubit… saling memandang dengan sangat… saling menyentuh…??? dan bahkan lebih dari itu…??

sukakah engkau saudaraku…??

sukakah engkau bila ternyata saat ini istrimu (kelak) sedang jalan bersama pria lain yang itu bukan engkau…??

sukakah engkau…?? bila saat ini istrimu (kelak) tengah berpikir dan merencanakan pertemuan berikutnya…?? tengah disibukkan oleh rencana-rencana…apa saja yang akan ia lakukan bersama pria itu…??

tidak cemburukah engkau temanku..?? bila saat ini istrimu (kelak) sedang makan bareng bersama pria lain… istrimu (kelak) saat ini sedang digoda oleh pria-pria…. istrimu (kelak) sedang ditelepon dengan mesra… istrimu (kelak) saat ini sedang curhat dengan pria… yang berkata…”aku tak bisa jika sehari tak mengobrol denganmu…”

tidak cemburukah…?? tidak cemburukah…?? tidak cemburukaaaaahhhhhhhh……???

tidak terasa bagaimanakah.. jika istrimu (kelak) saat ini tengah beradu pandangan… bercengkrama.. bercerita tentang masa depannya… dengan pria lain yang bukan engkau…???

sukakah engkau kiranya istrimu (kelak) saat ini tidak bisa tidur karena memikirkan pria tersebut…?? menangis untuk pria tersebut…?? dan berkata dengan hati hancur…”aku sangat mencintamu…aku sangat mencintaimu…???”

tidak patah hatikah engkau…??? sukakakah engkau bila istrimu (kelak ) berkata pada pria lain..”tidak ada orang yang lebih aku cintai selain engkau…??” menyebut pria tersebut dalam doanya… memohon pada Allah supaya pria tersebut menjadi suaminya…

dan ternyata engkaulah yang kelak akan jadi suaminya…..dan bukan pria tersebut…???

jika engkau tidak suka akan hal itu… jika engkau merasa cemburu…. maka demikian halnya dengan istrimu (kelak)…

dan…Allah jauh lebih cemburu daripada istrimu…. Allah lebih cemburu…saudaraku… melihat engkau sendirian…namun pikirannmu enggan berpindah dari wanita yang telah mengusik hatimu tersebut….

saudaraku….kalian percaya takdir bukan..?

saudaraku….kalian percaya takdir bukan..?

apabila dua orang telah digariskan untuk dapat hidup bersama… maka… sejauh apapun mereka… sebanyak apapun rintangan yang menghalangi… sebesar apapun beda diantara mereka… sekuat apapun usaha dua orang tersebut untuk menghindarkannya…

meski mereka tidak pernah komunikasi sebelumnya… meski mereka sama sekali tidak pernah membayangkan sebelumnya… meski mereka tidak pernah saling bertegur sapa…

PASTI tetap saja mereka akan bersatu…. seakan ada magnet yang menarik mereka… akan ada hal yang datang…untuk menyatukan mereka berdua…. akan ada suatu kejadian…yang membuat mereka saling mendekat…dan akhirnya bersatu…

namun… apabila dua orang telah ditetapkan untuk tidak berjodoh… maka… sebesar apapun usaha mereka untuk saling mendekat… sekeras apapun upaya orang disekitar mereka untuk menyatukannya… sekuat apapun perasaan yang ada diantara mereka berdua… sebanyak apapun komunikasi diantara mereka sebelumnya… sedekat apapun…

PASTI…akan ada hal yang membuat mereka akhirnya saling menjauh… ada hal yang membuat mereka saling merasa tidak cocok… ada hal yang membuat mereka saling menyadari bahwa memang bukan dia yang terbaik…. ada kejadian yang menghalangi mereka untuk bersatu…

bahkan ketika mereka mungkin telah menetapkan tanggal pernikahan…

namun…yang perlu dicatat disini adalah… yakinlah…bahwa yang diberikan oleh Allah… yakinlah…bahwa yang digariskan oleh Allah… yakinlah…bahwa yang telah ditulis oleh Allah dalam KitabNya.. adalah…yang terbaik untuk kita…. adalah….yang paling sesuai untuk kita… adalah…yang paling membuat kita merasa bahagia,,,,

karena Dialah…yang paling mengerti kita…lebih dari kita sendiri… Dialah…yang paling menyayangi kita… Dialah…yang paling mengetahui apa-apa yang terbaik untuk kita… sementara kita hanya sedikit saja mengetahuinya…dan itupun hanya berdasarkan pada persangkaan kita…

dan….yang perlu kita catat juga adalah…

…JIKA KITA TIDAK MENDAPATKAN SUATU HAL YANG KITA INGINKAN…ITU BUKAN BERARTI BAHWA KITA TIDAK PANTAS UNTUK MENDAPATKANNYA….NAMUN JUSTRU BERARTI BAHWA…KITA PANTAS…KITA PANTAS MENDAPATKAN YANG LEBIH BAIK DARI HAL TERSEBUT… KITA PANTAS MENDAPATKAN YANG LEBIH BAIK…SAUDARAKU…. LEBIH BAIK….

meskipun saat ini…mata manusia kita tidak memahaminya… meskipun saat itu…perasaan kita memandangnya dengan sebelah mata… meskipun saat itu…otak kita melihatnya sebagai sesuatu yang buruk….

Tidak…jangan terburu-buru menvonis bahwa engkau telah diberikan sesuatu yang buruk….bahwa engkau tidak pantas…. karena kelak…engkau akan menyadarinya… engkau akan menyadarinya perlahan…bahwa apa yang telah hilang darimu….bahwa apa yang tidak engkau dapatkan….bukanlah yang terbaik untukmu…bukanlah yang pantas untukmu…bukanlah sesuatu yang baik ,,,,untukmu….

karena itu…saudaraku… jangan mubazirkan perasaanmu…air matamu…waktumu…. jangan kau umbar semua perasaan cintamu ketika engkau tengah menjalin proses taarufan… jangan kau umbar semua kekuranganmu…jangan kau ceritakan semuanya… jangan kau terlalu ngotot ingin dengannya…jika engkau mencintainya… karena belum tentu dia adalah jodohmu… pun jangan takut bila ternyata kalian tidak merasa cocok… karena Allah telah menetapkan yang terbaik untuk kalian…

maka…memohonlah padaNya… mintalah padanya diberikan petunjuk…dan dijauhkan dari segala godaan yang ada… karena…cinta sebelum pernikahan…pada hakekatnya adalah sebuah cobaan yang berat…

Dan…percayalah…jodoh itu tidak ada kaitannya dengan banyak sedikitnya kenalan…banyak sedikitnya teman perempuan

sama sekali tidak… karena jika laki-laki yang terjaga maka Allahlah yang akan mengirimkan pendamping untuknya… karena laki-laki yang terjaga adalah laki-laki yang banyak didamba oleh seorang akhwat sejati… jadi…jagalah dirimu…hatimu…kehormatanmu…sebelum saatnya tiba…

perbanyak bekalmu…dan doamu… yakinlah…bahwa Allah yang akan memilihkan yang terbaik untukmu… amien…

*Ya Allah…karuniakanlah kami seorang pasangan yang sholeh… yang menjaga dirinya… yang menjaga hatinya hanya untuk yang halal baginya… yang senantiasa memperbaiki dirinya… yang senantiasa berusaha mengikuti sunnah Rasulullah… yang baik akhlaknya… yang menerima kami apa adanya… yang akan membawa kami menuju Jannah Mu Ya Rabb…

kabulkan ya Allah… amien… dan segerakanlah…karena hati kami teramat lemah…dan cinta sebelum menikah adalah sebuah cobaan yang berat…


Oleh: Oktareza Wahyu R | Juni 17, 2010

Auto generate Report

Oleh: Oktareza Wahyu R | Juni 17, 2010

Examples of Otomation with PHP

Create .bat files to execute php files.
@echo off

echo Generating AdHoc Report…..please wait

C:\Server\xampp\php\php.exe C:\Server\xampp\htdocs\main\escalation\report\ReportTCO.php

echo Report TCO Created ..

C:\Server\xampp\php\php.exe C:\Server\xampp\htdocs\main\escalation\report\reportProblemTypeDL_NotClose_new.php

echo Report Problem Type Created ..

C:\Server\xampp\php\php.exe C:\Server\xampp\htdocs\main\escalation\report\ReportDisposition_Daily_new.php

echo Report Disposition Created ..

C:\Server\xampp\php\php.exe C:\Server\xampp\htdocs\main\escalation\report\reportPenghapusan-Pengembalian_new.php

echo Report Penghapusan-Pengembalian Created ..

C:\Server\xampp\php\php.exe C:\Server\xampp\htdocs\main\escalation\report\CloseAndReplyCSC_new.php

echo Report Close-Reply CSC Created ..

C:\Server\xampp\php\php.exe C:\Server\xampp\htdocs\main\escalation\report\Report_All_Pending_PerDepartment_new.php

echo Report monthly Pending All Department Created ..

C:\Server\xampp\php\php.exe C:\Server\xampp\htdocs\main\escalation\report\Report_All_Pending_New.php

echo Report  All Pending Department Created ..

C:\Server\xampp\php\php.exe C:\Server\xampp\htdocs\main\escalation\report\progress_jkt_New.php

C:\Server\xampp\php\php.exe C:\Server\xampp\htdocs\main\escalation\report\progress_bdg_New.php

C:\Server\xampp\php\php.exe C:\Server\xampp\htdocs\main\escalation\report\progress_smg_New.php

C:\Server\xampp\php\php.exe C:\Server\xampp\htdocs\main\escalation\report\progress_sby_New.php

C:\Server\xampp\php\php.exe C:\Server\xampp\htdocs\main\escalation\report\progress_medan_New.php

C:\Server\xampp\php\php.exe C:\Server\xampp\htdocs\main\escalation\report\SummaryTHDReport_New.php

C:\Server\xampp\php\php.exe C:\Server\xampp\htdocs\main\escalation\report\DailyTHDCreate_New.php

echo Report THD Created ..

C:\Server\xampp\php\php.exe C:\Server\xampp\htdocs\main\escalation\report\Report_Daily_Dismantling.php

echo Report Dismantling Created ..

C:\Server\xampp\php\php.exe C:\Server\xampp\htdocs\main\escalation\report\ReportLewatBatasSLA_new.php

echo report escalation Over SLA created ..

echo Copy Report to Shared Folder…

C:\Server\xampp\php\php.exe C:\Server\xampp\htdocs\main\escalation\report\CopyReport.php

echo Generating Report Completed………….

echo Starting Send E-mail……

C:\Server\xampp\php\php.exe C:\Server\xampp\htdocs\main\escalation\report\Daily#SendAdHocReport.php

C:\Server\xampp\php\php.exe C:\Server\xampp\htdocs\main\escalation\report\Weekly#SendAdHocReport.php

C:\Server\xampp\php\php.exe C:\Server\xampp\htdocs\main\escalation\report\monthly#SendAdHocReport.php

C:\Server\xampp\php\php.exe C:\Server\xampp\htdocs\main\escalation\report\Daily#SendTHDReport.php

C:\Server\xampp\php\php.exe C:\Server\xampp\htdocs\main\escalation\report\Daily_SendDISMANTLINGvsTHD.php

Sending E-mail Finished ..


Create .bat files to Backup Database with mysqldump.
C:\Server\xampp\mysql\bin\mysqldump -u root astro > d:\BackUp_Dump_Database_for_Veritas\dump_astro.sql

C:\Server\xampp\mysql\bin\mysqldump -u root dbbilling > d:\BackUp_Dump_Database_for_Veritas\dump_dbbilling.sql

C:\Server\xampp\mysql\bin\mysqldump -u root dbglobal > d:\BackUp_Dump_Database_for_Veritas\dump_dbglobal.sql

C:\Server\xampp\mysql\bin\mysqldump -u root dbretention > d:\BackUp_Dump_Database_for_Veritas\dump_dbretention.sql

C:\Server\xampp\mysql\bin\mysqldump -u root dbstat > d:\BackUp_Dump_Database_for_Veritas\dump_dbstat.sql

c:\Server\xampp\mysql\bin\mysqldump -u root dbtco > d:\BackUp_Dump_Database_for_Veritas\dump_dbtco.sql

c:\Server\xampp\mysql\bin\mysqldump -u root dbvoucher > d:\BackUp_Dump_Database_for_Veritas\dump_dbvoucher.sql

c:\Server\xampp\mysql\bin\mysqldump -u root dbwaiver > d:\BackUp_Dump_Database_for_Veritas\dump_dbwaiver.sql

c:\Server\xampp\mysql\bin\mysqldump -u root dbhbo > d:\BackUp_Dump_Database_for_Veritas\dump_dbhbo.sql

Create .bat files to restore Data Base.

c:\Server\xampp\MYSQL\bin\mysql -u root dbbilling < D:\BackUp_Dump_Database_for_Veritas\dump_dbbilling.sql
Copy backup of result files to another location (drive or directory).

@echo off

echo Copy Dump Database Files…..please wait

C:\Server\xampp\php\php.exe C:\Server\xampp\htdocs\main\escalation\report\CopyBackupDatabase.php

Oleh: Oktareza Wahyu R | Juni 17, 2010

Create PHP Files to Copy .sql Backup Result

<?php
//create daily directory on report directory
$date=date(‘d-m-Y’);
$dir=”d:/BackUp_Co-Net/[".$date."]“;
mkdir($dir, 0700);

//copy report files from AdHoc_Files to FTP Folders

$sourceFile1=”D:/BackUp_Dump_Database_for_Veritas/dump_astro.sql”;
$sourceFile2=”D:/BackUp_Dump_Database_for_Veritas/dump_dbbilling.sql”;
$sourceFile3=”D:/BackUp_Dump_Database_for_Veritas/dump_dbglobal.sql”;
$sourceFile4=”D:/BackUp_Dump_Database_for_Veritas/dump_dbretention.sql”;
$sourceFile5=”D:/BackUp_Dump_Database_for_Veritas/dump_dbstat.sql”;
$sourceFile6=”D:/BackUp_Dump_Database_for_Veritas/dump_dbtco.sql”;
$sourceFile7=”D:/BackUp_Dump_Database_for_Veritas/dump_dbvoucher.sql”;
$sourceFile8=”D:/BackUp_Dump_Database_for_Veritas/dump_dbwaiver.sql”;

//destination file
$destinationFile1=$dir.”/dump_astro.sql”;
$destinationFile2=$dir.”/dump_dbbilling.sql”;
$destinationFile3=$dir.”/dump_dbglobal.sql”;
$destinationFile4=$dir.”/dump_dbretention.sql”;
$destinationFile5=$dir.”/dump_dbstat.sql”;
$destinationFile6=$dir.”/dump_dbtco.sql”;
$destinationFile7=$dir.”/dump_dbvoucher.sql”;
$destinationFile8=$dir.”/dump_dbwaiver.sql”;

copy($sourceFile1,$destinationFile1);
copy($sourceFile2,$destinationFile2);
copy($sourceFile3,$destinationFile3);
copy($sourceFile4,$destinationFile4);
copy($sourceFile5,$destinationFile5);
copy($sourceFile6,$destinationFile6);
copy($sourceFile7,$destinationFile7);
copy($sourceFile8,$destinationFile8);

?>

Tulisan Sebelumnya »

Kategori

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.